Biasa Saja Dalam Menyikapi Sihir, Santet, dan Sulap

Biasa Saja Dalam Menyikapi Sihir, Santet, dan Sulap

Sihir, santet, dan sulap, itu sama. Tidak perlu dibesar-besarkan. Bahwa sihir ada dalam Al-Qur'an, iya. Karena itu yang bahasa Arab, dan Al-Qur'an bahasa Arab. Kalau mau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bisa menjadi santet dan sulap.

Penyihir di zaman Nabi Musa, tidak benar-benar bisa mengubah tongkat menjadi ular. Itu hanya pengelabuhan mata. (Al-A'raf: 116) Hal ini bisa terjadi dengan hipnotis atau desain teknologis.

Nabi Musa juga tidak bisa mengubah tongkatnya menjadi ular. Allahlah yang mengubahnya. Ini yang disebut dengan mukjizat.

Seorang ulama di zaman Nabi Sulaiman, dapat memindahkan gedung kerajaan lebih cepat dari kedipan mata, itu juga bukan murni kemampuannya. Kata beliau, "Ini adalah anugerah dari Tuhan, untuk mengujiku, apakah aku akan bersyukur atau berkufur." (An-Naml: 40) Inilah yang disebut karamah. Demikian pula yang terjadi pada Maryam binti Imran, ibu dari Nabi Isa. (Ali Imran: 37).

Bahwa sihir itu ada, demikian pula santet dan sulap, iya. Namun kita tidak boleh terkecoh dengan apa yang kita lihat, sebab itu trik.

Dan, bahwa karamah itu nyata, iya. Tapi kita tidak harus percaya bahwa orang ini punya karamah atau tidak. Karena antara sihir dan karamah, beda tipis banget.

Ada beberapa komunitas setan (bisa dari kalangan manusia maupun jin) yang mengobral buku tutorial "sihir" dan menisbatkannya pada Nabi Sulaiman. Mereka bahkan mengatakan Nabi Sulaiman pun penyihir. (Al-Baqarah: 102)

Lucunya kita, lebih suka menceritakan hal-hal menakjubkan para nabi dan wali daripada perjuangan mereka. Bahkan di kalangan kontra mukjizat pun tidak lepas dari kungkungan dalam membuktikan ketidakadaan mukjizat.


Shopee

BACA POSTINGAN LAINNYA:



BUKA KOMENTAR

Terima kasih sudah berkomentar