Tidak seperti kyai pada lazimnya yang berdakwah kepada santri-santri di pesantrennya atau masyarakat di sekitarnya. Beliau berdakwah ke tempat-tempat pelacuran, ke sarang-sarang penyamun dan bajingan. Bahkan, waliyullah sekelas Kyai Hamid (KH. Abdul Hamid Pasuruan) mengaku tidak mampu berdakwah ala Gus Miek.

Sebagaimana sosoknya yang nyeleneh dan nyentrik, medan dakwahnya pun nyentrik alias tidak lazim. Medan dakwah beliau jauh dari kamera dan media. Hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di kota-kota Jawa Timur, mampir di warung kopi, nimbrung dengan tukang-tukang becak, keluar masuk night club atau dugem, berbaur dengan lonte-lonte dan mucikari yang masih dalam kegelapan jalan akhirat.

Pernah suatu ketika Gus Farid (putra K.H. Ahmad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya. “Bagaimana perasaan Gus Miek tentang wanita? tanya Gus Farid. “Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apa pun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja. Jadi, jalan untuk syahwat tidak ada,” jawab Gus Miek.

Gus Farid juga menanyakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu di jalan maupun saat bertemu dengan tamu. “Apabila aku bertemu orang di jalan atau tamu, aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk, maka aku menangis, maka aku pakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis,” jawab Gus Miek. Al-Fatihah.

BACA JUGA POSTINGAN LAINNYA: