Memandang Sesuatu Agar Hati Tidak Mudah Membenci

Memandang Sesuatu Agar Hati Tidak Mudah Membenci

Membenci adalah perilaku dan kotoran hati yang sangat berbahaya, perilaku membenci sebenarnya sangat merugikan diri kita sendiri, sifat dan perilaku membenci sangat sukar kita hilangkan dari hati terlebih ketika sifat itu sudah mendarah daging, apapun kebaikan yang orang lain lakukan, ketika kita sudah membencinya tetap saja yang dilakukannya dalam pandangan kita adalah salah.

Tetapi dalam pandangan orang-orang alim dan sholeh slalu diajarkan agar kita slalu memandang orang lain dengan pandangan tawadhu, itu agar bertujuan melatih dan mengikis rasa untuk membenci orang lain, Imam Al Ghazali pun menyampaikan agar kita memandang pihak lain dengan kacamata tawadhu. Semisal.

Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu: "Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku".

Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah: "Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku".

Jika melihat orang alim (pandai), katakanlah: "Orang ini telah memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya?".

Jika dia bodoh, katakan dalam hatimu: "Orang ini bermaksiat dalam kebodohan, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu. Maka, hujjah Allah terhadap diriku lebih kuat, dan aku tidak tahu bagaimana akhir hidupnya dan akhir hidupku".

Jika orang itu kafir, katakanlah: "Aku tidak tahu, bisa saja dia menjadi Muslim dan akhir hidupnya ditutup dengan amalan yang baik. Dan dengan keislamannya, dosanya diampuni. Sedangkan aku, aku berlindung kepada Allah dari hal ini, bisa saja Allah menyesatkanku hingga aku kufur dan menutup usia dengan amalan keburukan. Sehingga ia kelak termasuk mereka yang dekat dengan rahmat sedangkan aku jauh darinya".

Disini Imam Ghozali rahimahullah memberi nasihat agar kita jangan sampai melihat diri kita lebih baik. Karena kebaikan yang hakiki adalah dari penilaian Allah di akhirat kelak dan itu masalah ghaib. Hal itu juga tergantung dengan keadaan bagaimana keadaan kita waktu meninggal.


BACA JUGA POSTINGAN LAINNYA:




KLIK UNTUK BERKOMENTAR